Kota Tua (Old City), Jakarta



Paling seru itu Jalan tanpa rencana,,, ya selama tau jalan dan ada duit dikantong, even cuman cukup buat ongkos. walaupun orang pasti anggep GILA LOE (*ga pake muncrat woy!). Dan gw salah satu pengidap SOTRADAKAN syndrom. SOTRADAKAN kepanjangan dari Soloist Traveler Dadakan... dan Gw adalah penemu istilah itu,,,, (panetin ahhh).


Sunday morning, bangun tidur kayak orang linglung (gw bgt) dan kepagian pula, mau tidur lagi, males juga.. (*kayaknya ga penting deh cerita bagian ini, hehhee).  Otak langsung kelayaban kemana2. terlintas beberapa tempat sih, tapi pastiin keadaan kantong dulu deh, sambil muka ngelindur.. chek kantong & dompet, bongkar tas, (haduh duit cuma 30rb. *tepok jidat*. Yah duit segitu sih cuman cukup ke Kotu. baiklah.... Jadi kali ini ke Kota Tua aja...

Sekilas tentang Kota Tua.

Tahun 1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektar dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa. Tahun 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, saat ini Lapangan Fatahillah.

Penduduk Batavia disebut "Batavianen", kemudian dikenal sebagai suku "Betawi", terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia.

Tahun 1635, kota ini meluas hingga tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal [1]. Kota Batavia selesai dibangun tahun 1650. Batavia kemudian menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Kanal-kanal diisi karena munculnya wabah tropis di dalam dinding kota karena sanitasi buruk. Kota ini mulai meluas ke selatan setelah epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan Merdeka). Batavia kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda. Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang.

Akses menuju kota tua sendiri, gampang banget. Naek kereta dari statiun bogor ke jakarta kota. dari situ bisa langsung eksplore Kota tua deh. ongkosnya juga murah, Kereta ekonomi 2000, atau kalo mau yang elit dikit naek commuter line ongkos Rp. 7,000.-, tapi menurut gw sendiri, ekonomi dan AC ga ada bedanya, sama2 sumpek.

Sebenernya agak binggung pas sampe sana, mau lewat mana, dan apa yang mau dikunjungin, namanya juga dadakan ga ada rencana, apalagi gw baru kedua kalinya ke Kota tua, sebelumnya bareng sama wewe dan mba eva dan itu pun, cuman ikut aja, ga perlu tanya2 jalan. Akhirnya, ikutin jalan keluar setelah dari stasiun, dan tanya sama orang musium paling deket dimana. dan Dia nunjukin museum Mandiri, dan gw mulai dari Meseum Mandiri.


Museum Mandiri
Letaknya paling dekat sama pintu keluar stasiun Jakarta Kota. Berdiri tanggal 2 Oktober 1998. Museum yang menempati area seluas 10.039 m2 ini pada awalnya adalah gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan. Koleksi didalam Museum Mandiri ini berkaitan tentang semua aktivitas perbankan "tempo doeloe" dan perkembangannya, koleksi yang dimiliki mulai dari perlengkapan operasional bank, surat berharga, mata uang kuno (numismatik), brandkast, dan lain-lain.

Ga mau ketinggalan narsisnya, gw pun jeprat jepret, modal camera pocket.setiap kali mau foto, pasti sibuk cari dudukan buat tempat kamera, secara pergi sendiri ya.. siapa juga yang mau motoin... hihihi


Museum Bank Indonesia
Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. (Selengkapnya : Googling aja sendiriiiii.. hahhaha)

Ini museum yang paling mewah yang ada di Jakarta yang pernah gw liat. bangunannya tinggi.. dan yang pasti gw suka bangett.. Dinginn (brrrrrr) dan bersih. didalam museumnya ada bioskop mini, tapi sayang ga boleh duduk disana apalagi ikutan nontn, karena memang hanya untuk rombongan. (*Melassss)

Jakarta semakin panasssss... dan gw sangat bersyukur ada di bogor... ya setidaknya cuaca di bogor better than Jakarta.

Setelah dari Museum BI, mulai binggung lagi deh, gw jalan terus... sampe ketemu plang peta Kota Tua, dan memutuskan ke Museum Bahari, yang ternyata jauh dari tempt gw berdiri... (*hadoohh,,, ngecek kantong lagii), akhirnya dengan terpaksa naek bajay dengan ongkos 10rb (*MAHAALLLLLL). 

Museum Bahari
Pada masa pendudukan Belanda bangunan ini dulunya adalah gudang yang berfungsi untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah yang merupakan komoditi utama VOC yang sangat laris di pasaran Eropa. Bangunan yang berdiri persis di samping muara Ci Liwung ini memiliki dua sisi, sisi barat dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat (dibangun secara bertahap mulai tahun 1652-1771) dan sisi timur, disebut Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur.

Menurut gw, ini museum yang paling tidak terawat, kotor, berdebu, dan sepiiii.. apa karna deket pasar ikan kali yaaa.. :D. museum ini sendiri terdiri dari dua lantai, gw coba naek ke atas. tapi..  (jeg-jeg) lebih cocok buat tempat uji nyali.... horoorrrrrrrrrrrrrr........ dan pastinya gw ga mau berlama-lama disitu.

Ga jauh dari Museum Bahari, kita udah bisa nemuin Menara Bahari (Sodaraan sama Museum Bahari), di menara bahari ini, ga ada yan bisa diliat di menara ini. tapi kalo ga takut ketinggian, didalem menara sendiri ada tangga dan dari posisi paling atas, kita bisa liat Pelabuhan Sunda Kepala... (*Kerennn lhoooo)

Dari Menara Bahari, gw lanjutkan ke Museum Fatahillah,, agak jauh juga sih, tapi seengaknya ada bis (klo ga salah kopaja 05 deh) ongkosnya cuman Rp. 2000.-, tapi klo pertama kali kesitu, memang harus ngotot sama kernet... Contohnya gw, yang percaya aja, pas si kernet bilang "iya nanti dikasih tau", tau-tau, bukan dia yg kasih tau gw, malah ibu... Ribut lah sama kernet bis yang orang Batak itu... errr. udah salah ga mau disalahinn..... (*bertanduk)

Nah.. kawasan Museum Fatahillah ini yang paling rame, mungkin bisa disebut pusatnya kota tua kali yaa....  ada street dance (*ceritanya), ada yang nyewain onthel dengan tarif 10-30rb, pinter pinter ajalah nawarnya..

Museum Fatahillah
Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia. Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota (bahasa Belanda: Stadhuis) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.

Kebanyak barang-barang museum yang bisa diliat kayak kursi, meja, ruang2an, dan tentu ada penjaranya.. (ihhhhh).

Cafe Batavia
Lagi di Museum Fatahillah, perut keroncongan,,, inget duit udah tinggal 15rb.... hadoohhhh... Rencana keluar sih nyari makanan murah... tapi malah liat Cafe Batavia,,, (*ngapain sih tuh Cafe ada disitu), anyway, gw pernah beberapa kali searching tentang nih Cafe, berhubung gw tukang makan dan suka hunting tempat cozy.. Entah kenapa gw masuk tuh Cafe... (iya iya, gw tau yang kalian pikirin,, 15rb? mau masuk cafe?? gw punya ATM donggg.. :p).. dan Begitu masuk.... SUMPAH GW SUKA BGT SAMA SUASANANYA......tenang,, damai,,, lukisan2 classic dimana2.. dan ehhhhmmm... Kebanyakan pengunjungnya orang asing.. berhubung gw emang suka sama yang asing-asing (halahhh), bisa sekalian cuci mata... hahhaa.

Harga makanan disini MAHAL, tapi buat yang suka restoran dengan desgn belanda,, ya disinilah tempat yang cocok. (udah ah,, cuman mau bilang gitu doang.. hihihihi)

Museum Wayang
Museum terakhir yang gw kunjungi adalah Museum wayang, seperti namanya... di museum ini terdapat banyak Jenis wayang dan boneka2 mancanegara. didalemnya ada satu panggung yang digunkan untuk pertunjukan Wayang, dan kebetulan waktu gw kesana, memang lagi ada pertunjukan. :)

Jalan-jalan di Kota tua berakhir di Museum wayang,,, Awalnya binggung gimana jalan ke stasiun lagi. tapi pas tanya, ternyata cuman ada di sebrang,,, *jlebbbb..... Malu2in.... masa gitu doang ga tau... hhahaa

Jakarta emang kota metroplitann (katanya sih gitu).. Tapi ada bagian Jakarta yang nyimpen banyak sejarah, dan salah satunya KOTA TUA...

No comments:

Post a Comment